Tag Archives: Aikido Jogjakarta

Katate Tori

Salah satu serangan yang paling dasar dalam Aikido adalah katate-tori. Serangan ini diskenariokan dengan posisi yang spesifik, salah satu tangan uke memegang tangan nage yang berlawanan, misalnya, tangan kiri uke memegang tangan kanan nage, posisi kaki juga berlawanan, yaitu jika nage memposisikan kaki kanannya di depan dalam kamae, maka uke menghadapinya dengan gyaku-hanmi, atau posisi kaki yang berlawanan, dengan kaki kiri di depan.

Pertanyaan yang paling umum kemudian muncul, apakah maksud yang sebenarnya dari bentuk serangan ini? Pada awalnya seorang praktisi akan dilatih untuk menghadapi bentuk serangan pegangan. Pertama-tama, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah nage dalam merasakan intensi yang diberikan kepadanya, namun kemudian jikanage kemudian hanya terbiasa dengan kogeki (cara menyerang) pegangan, maka reaksinya terhadap serangan lepas akan menjadi tumpul, maka kemudian permasalahan selanjutnya adalah, ternyata metode latihan untuk merasakan tidak hanya dilatih dengan kogeki dalam bentuk pegangan, namun juga dalam bentuk serangan lepas seperti shomen-uchi atau yokomen-uchi, dan katate-tori hanyalah salah satu variasi dari kogeki.

Latihan Tahap 1, Pengertian Akan Tubuh Sendiri (Mengenal Diri Sendiri)

Aspek teknis adalah aspek yang sangat penting dalam latihan, ini adalah titik permulaan, dimana konsep untuk pembelajaran lebih lanjut diberikan agar seorang praktisi dapat memulai perjalanannya. Level teknis terwujud dalam tanren, proses belajar dalam bentuk repetisi. Seperti seorang sarjana pengembara, aspek teknis adalah peta bagi seorang praktisi, petunjuk untuk memulai, dan kemudian, untuk memilih jalan yang mereka rasa cocok untuk memenuhi tujuan mereka dan memahami tujuan hidup, untuk memahami hasrat dan batasan dari pikiran kita dan memungkinkan kita untuk menguasainya.

Di langkah pertama, akan sangat mudah bagi kita untuk menemukan betapa sulitnya tubuh bergerak dalam melakukan gerakan-gerakan tertentu, secara khusus, gerakan-gerakan dalam Aikido. Jangankan tehnik, untuk sebagian besar pemula, bahkan untuk melakukan gerakan-gerakan sederhana seperti ikkyo-undo relatif sulit, mengapa demikian? Karena kita tidak terbiasa melakukannya, walaupun simpel dan alami, tubuh kita terbelenggu oleh satu kebiasaan, menghafal gerakan. Menghafal gerakan membatasi fisik kita dalam beradaptasi terhadap satu set gerakan tertentu; kita membatasi potensi fisik kita dalam proses yang disebut “belajar” Kita harus mempelajari sesuatu sebelum tubuh kita terbiasa dalam melakukan sesuatu. Dengan semata menggantungkan diri pada hal ini, kita membatasi kemampuan kita untuk memahami, kita membatasi indera kita, membatasi kemampuan kita untuk merasakan, dan kemudian mengakibatkan proses belajar yang lambat.