An Opinion: Spoon-feeding Cuts off Our Meal

YogyaAiki – Artikel ini saya tuliskan bagi semua aikidoka khususnya di Indonesia. Saya adalah seorang praktisi pendidikan dan berkarya di pendidikan formal sejak tahun 2006. Banyak hal yang saya pelajari selama 13 tahun sebagai tenaga pendidikan dan proses belajar aikido dari tahun 1997, yang telah mendorong saya untuk berbagi opini yang akan disampaikan dalam artikel ini. Saya akan sampaikan hasil riset kecil saya dan berharap artikel ini akan berguna bagi para pembelajar awal aikido maupun mereka yang cukup lama belajar aikido.

Kids and Spoon-feeding
Dari pengalaman saya sebagai guru, pengamatan saya akan murid-murid selama dekade terakhir dan buku yang saya baca, saya menemukan ada sebuah proses belajar yang “somehow” tidak pernah berubah. Proses tersebut adalah yang saya sebut “spoon-feeding”.  Tentu saja kita masih ingat bagaimana kita disuapi saat masih kecil dan, bagi beberapa dari kita, masih tahu bagaimana menyuapi anak seseorang. Fakta yang ada adalah banyak orangtua dari generasi Y merasa bahwa hidunya susah di masa lalu dan ingin menyamankan anaknya dengan “spoon-feeding”. Hal yang kurang diketahui adalah bahwa pada usia tertentu seorang anak sudah mempunyai insting alami untuk menggapai makanannya sendiri. Ketika orangtua tetap menyuapi anak saat masa itu datang, anak merekam kebiasaan menerima makanan yang akhirnya mengurangi tingkat kemandirian. Dan lebih parah lagi, hal itu menahan seorang anak memperoleh kebutuhan lain “simply” karena merasa kebutuhan tersebut akan terpenuhi oleh superior, dalam kasus ini adalah orangtua. Singkat kata, anak mempunyai karakter menunggu dan tidak mencari sebelum diberi.

Aikido and Acceptance
Dalam proses pembelajaran di dojo aikido, kita diminta untuk secara sadar dan aktif untuk menerima apapun yang diajarkan seorang instruktur atau “sensei”, lepas daripada apa yang diajar tersebut baik atau tidak. Sebagai aikidoka, kita tidak sepatutnya kita mempertanyakan waza yang dicontohkan atau bahkan menguji kemampuan seorang instruktur pada suatu waza tersebut. Hal ini berkait dengan loyalitas, rasa hormat, dan etika seorang siswa.
Namun ada orang yang berkata,” Jika kita tidak menguji waza tersebut, bagaimana kita tahu bahwa waza itu berguna atau bagaimana kita tahu kalau sensei itu adalah instruktur yang baik?”
Menerima tidak selalu berarti menelan mentah-mentah apapun yang disodorkan ke mulut kita. Seorang bayipun tahu apa yang harus mereka terima ke dalam mulut dana pa yang yang harus dimuntahkan kembali. Terutama orang yang dewasa, sudah selayaknya mempunyai “commonsense” dan bisa berusaha mengerti, menelaah, menyaring, dan menentukan ajaran mana yang patut diterima. Jika kita masih mengutarakan pertanyaan di atas, mungkin kita perlu bertanya kembali,” Apakah saya cukup dewasa untuk hal ini?”
Intinya, tahap penerimaan adalah langkah awal dalam proses belajar apapun karena penerimaan membuka otak kita dan hanya dengan pikiran yang terbuka kita memperoleh esensi belajar itu sendiri.

What Do We Miss?
Saat seorang murid saya menyampaikan sebuah presentasi dalam Bahasa Inggris dengan tema “Environmental Issue” dia membahas masalah kekeringan lahan pertanian. Pada menit kedua presentasinya, dia mengucapkan kata “famine” (bencana kelaparan). Sebagai guru, saya menguji dengan meminta dia menyebutkan arti kata tersebut dalam Bahasa Indonesia. Setelah sepuluh detik berpikir, dia hanya tersenyum dan mengaku bahwa dia tidak mengerti arti kata tersebut.
Hal ini banyak terjadi di sekolah dan pada kebanyakan anak muda di tanah air. Mereka menggunakan atribute dalam bentuk apapun tanpa mengetahui hal dibalik atribute tersebut. Beberapa menggunakan istilah asing tanpa mengetahui artinya, yang lain mengenakan pakaian tanpa memerhatikan kesesuaian konteks sosial dan acara, dan ada yang mempunyai “gadget” canggih tanpa menyesuaikan dengan kebutuhan sehari-harinya. Hal serupa turun temurun dilakukan atas dasar komformitas, trend atau euphoria. Jika fakta ini dibiarkan tanpa ada usaha pengarahan ke pola pikir yang benar, komunitas orang dewasa negara ini dalam 30 tahun mendatang akan dipenuhi oleh mereka yang tampil keren dengan kata-kata, pakaian atau perilaku yang kurang berguna karena melenceng dari makna sejatinya.

The Thin Red Line
Beberapa murid saya menanyakan tentang alasan kita semua harus mengikuti multi mata pelajaran di sekolah. Mereka berargumen bahwa beberapa mata pelajaran tidak perlu diikuti karena tidak signifikan untuk ilmu lanjut yang akan mereka pelajari. Seorang siswa yang mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran merasa belajar sosiologi adalah membuang waktu saja. Siswa yang melanjutkan studi ke jurusan design interior berkata tidak perlu belajar kimia dan matematika yang rumit. Bahkan banyak siswa dari program studi apapun yang menyatakan belajar sejarah adalah sia-sia. Mungkin argumen mereka ada benarnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah “Mengapa banyak orang yang bahkan tidak mempelajari lebih jauh ilmu yang berhubungan erat dengan bidang yang mereka pilih?”.
Disinilah “spoon-feeding” menunjukkan efek sampingannya.
Dalam proses belajar aikido, banyak orang menghafalakan gerakan, nama dan jurus aikido, tapi tidak terbesit untuk terjun lebih dalam untuk mencari tahu postur kamae yang benar, mengapa harus membuka kaki cukup lebar, mengapa telapak tangan terbuka atau alasan mokusho pada posisi berlutut.
Hal diatas sama saja seperti anak muda yang mempunyai gadget canggih yang mahal dan menggunakannya hanya untuk menikmati sosial media dan bergosip saja. Saya akan beri gambaran bagaimana mempelajari ilmu lain berkontribusi terhadap pengertian kita akan gerakan aikido dan hal kecil apa yang seorang aikidoka sering lewatkan karena hal tersebut terasa tidak penting.
Pernahkah anda, terutama yang bekerja jauh dari bidang fisika, mempelajari tentang titik pusat massa dan momen inersia? Pernahkan kita membuka browser Google yang iseng-iseng mencari tahu tentang hal tersebut? Atau apakah kita cenderung menghindar karena menganggap ilmu tersebut tidak relevan dengan keseharian kita?
→ Ketika sebuah ballpoint kita lempar mendatar, ballpoint tersebut bergerak berputar hingga akhirnya menyentuh lantai dan berhenti bergerak. Ada satu titik pada benda tersebut yang tidak bergerak yang disebut titik pusat massa.
Momen inersia adalah ukuran kelembaman (kemalasan) suatu benda untuk berotasi terhadap porosnya. Benda yang berputar pada alas yang luas akan lebih lambat dibandingkan dengan benda berputar pada atas mengerucut.
Secuil ilmu diatas membantu kita mengerti cara malakukan gerakan aikido. Kita harus membuka kaki cukup lebar saat memperagakan kamae. Dan dengan meletakkan pusat massa tubuh kita pada titik yang tepat, kuda-kuda kita menjadi stabil dan kokoh. Momen insersia mengajarkan kita untuk  melakukan tenkan atau kaiten dengan jarak kaki yang sama saat kamae agar putaran tubuh kita tidak berlebihan dan tidak oleng di akhir gerakan. Dan masih ada ilmu pengetahuan lain seperti “gyroscope precision” yang akan menjawab “Mengapa kita tidak perlu mempertanyakan waza yang diajarkan oleh seorang instruktur atau sensei?”

Apakah saya sudah menguasai aikido?
Jawaban saya “ Pasti belum!”. Melalui artikel ini saya mengajak semua pembelajar aikido untuk melakukan introspeksi agar tidak melewatkan hal penting yang Morihei Ueshiba ingin ajarkan pada kita.
Morihei Ueshiba pernah berkata pada salah satu murid beliau, Mariye Takahashi,” Sebelum kau pergi, adakah ingin kau tanyakan?”. Secara spontan Takahashi berkata,” O-Sensei, apakah itu aikido?”.
Untuk menjawabnya, O-sensei menuliskan sebuah pesan agar Takahashi bisa membacanya dan suatu saat dapat memahaminya. Inti pesan tersebut menyatakan bahwa aikido adalah latihan intelektualitas, latihan fisik, latihan kebajikan dan latihan “ki”. Keempat latihan tersebut menghasilkan “practical wisdom”. O-sensei juga menambahkan bahwa kehilangan satu saja dari hal tersebut akan membuat semua latihan sia-sia dan pasti memperlambat perkembangan keseluruhan seorang aikidoka.
Marilah mulai sekarang kita bersama saling membantu untuk memahami aikido melalui empat latihan tersebut. Diharapkan agar kita bisa menyingkirkan persaingan dan belajar bersama, menggali lebih jauh dan saling berbagi ilmu pengetahuan, secara aktif menerapkan nilai kebajikan dalam perilaku sehari-hari, meningkatkan daya hidup, mengharmonisasikan keempat latihan …
dan semoga suatu saat nanti kita memahami ai-ki-do. (Yohan Kristian)