Belajar Beladiri Bukan Sekedar Olahraga, tetapi Kebutuhan

YogyaAiki – Persaingan sering kali menjadi pangkal konflik horizontal, sifat iri juga sering kali menggadaikan harga diri dan tidak lagi perduli akan hak asasi. Keharmonisan berkeluarga, bertetangga, bermsyarakat seakan tinggal kayalan belaka. Modernisasi mampu merubah tradisi dan budaya silaturahmi, teman dekat tidak diperdulikan lagi sementara yang baru kenal seakan dekat sekali padahal diluar negeri. Fenomena tersebut sekarang ini sudah sangat terasa sekali maka belajar beladiri bukan hanya sekedar olahraga maupun gaya hidup, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang akan menjadi sarana pertolongan pertama ketika menghadapi ancaman kejahatan atau setidaknya untuk mempertahankan diri.

Semua makhluk hidup di dunia ini pada hakekatnya telah diatur dan dibekali oleh yang Maha Pencipta yaitu naluri untuk mampu mempertahankan diri sesuai dengan kehidupan masing-masing. Misalnya saja hewan, semua hewan telah dibekali berbagai macam keistimewaan untuk mampu bertahan dari berbagai macam persaingan hidup, seperti adanya taring, tanduk, lari kencang, mampu berubah warna, mengeluarkan bau, bisa racu , cangkang yang kuat dan lain-lain, semua itu anugerah Ilahi .  Seleksi alam akan membuktikan siapa yang mampu bertahan  maka dia yang menjadi pemenang. Lalu bagaimana kita sebagai manusia, makluk sempurna dengan dikaruniai kecerdasan dan akal, tidak lagi kekuatan okol/otot yang akan menjadi pemenang namun yang kecerdasan akal berpegaruh besar dalam mempertahankan diri.

Sejak rubuan tahun yang lalu beladiri ini muncul dan berkembang seiring dengan budaya masyarakat sebagai bentuk kecerdasan otak dan akalnya dalam mengolah strategi dalam mempertahankan diri. Agar tidak mudah terdeteksi lawan bahwa sebenarnya sebuah gerakan beladiri maka disamarkan sebagai tarian adad atau gerakan tertetu, jika sudah demikian maka masyarakat melakukanya dengan senang hati. Jadi disini jelas bahwa belajar beladiri bukan sekedar untuk olahraga biasa namun diakui ataupun tidak sebagai kebutuhan untuk mampu pempertahankan diri maupun kelompoknya. Menurut saya sendiri semua seni beladiri itu baik, hanya saja dalam penerapanya sangat tergantung pada penggunanya. Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga kemampuan beladiri seseorang itu jadi tidak efektif pada saat dibutuhkan. Faktor mental dan emosi menjadi penyokong utama dalam kesuksesan dalam penerapan ilmu beladiri. Mental berpengaruh pada rasa kepercayaan diri sehingga mampu mengendalikan emosinya dalam menjalankan strategi dan mengambil keputusan tepat sehingga teknik beladiri bisa efektif.

Ada pepatah bahwa “Okol kalah karo Akal“, Okol identik dengan otot/kekuatan otot/mengandalkan kekuatan otot sedangkan Akal identik dengan pikiran atau mampu berfikir tenang sehingga mampu menyusun strategi bagaimana menyelesaikan permasalahan. Kekerasan tidak harus dilawan dengan kekerasan pula, karena yang terjadi adalah rusak-rusakan/sampyuh (sama sama rugi karena saling menghancurkan), padahal kekerasan bisa dikalahkan dengan kelembutan, jika terjadi kontak fisik tidak perlu diadu dengan fisik pula bagaimana jika secara fisik kita lebih kecil bagaimana pula jika secara fisik kita lebih tua maka berfikirlah secara bijaksana arahkan benturan fisik tersebut ketempat yang aman ambillah keputusan yang saling menguntungkan sehingga kedua belah pihak akan merasa puas dan tidak ada yang merasa di rugikan (Win-win Solution),  inilah  juga yang disebut konsep “Menang tanpa ngasorake” (menang tanpa harus merendahkan pihak lawan) sebuah konsep lama tapi modern.

Konfik bisa terjadi kepada anak-anak, remaja bahkan orang dewasapun juga sangat sering terjadi di lingkungan kita. Mempertahankan diri adalah naluri semua makluk hidup di dunia ini, maka belajar seni beladiri tetap menjadi kebutuhan, namun kadang kesempatan dan beladiri apa yang sesuai? jawabanya tanyakan pada diri sendiri.

Salam Aiki….. (Yanto)